Jumat, 11 Februari 2011

jahatnya teknologi dalam pendidikan


FOTO dan video dari telepon genggam yang beredar di internet meningkat jumlahnya. Ini menjadi wajar seiring telepon genggam berkamera dan video telah menyandang predikat “HP sejuta umat.” Sebagian besar dari “sejuta umat” adalah kalangan generasi muda-mudi( remaja ) merupakan pengadopsi awal (early adopter) dari berbagai produk teknologi. Sesuai dengan judul, tentunya materi visual yang beredar tersebut bukanlah materi yang pantas dilihat orang kebanyakan. Hal ini membuat anak menjadi tersangka utama sekaligus korban dari kasus-kasus ini.
Pelaku ataupun korban dalam kasus di atas sesungguhnya hanyalah korban dari sisi negatif teknologi. Semua ini terjadi, secara tidak langsung, atas izin orangtua yang membebaskan pengadopsian teknologi tanpa pendampingan.
Banyak bukti sisi negatif teknologi yang tidak disadari beredar di hadapan orangtua. Sebuah bukti sempat direkam dalam kamera video di sebuah sekolah dasar negeri percontohan di Bogor. Pada suatu hari Jumat siang, sejumlah murid asyik bermain perang-perangan menggunakan crossbow (panah menggunakan pelatuk seperti pistol) yang terbuat dari kayu yang dijual di pagar sekolahan. Pada saat yang sama, di sekeliling murid-murid tersebut guru-guru dan orang tua murid yang sedang menunggu terlihat tidak menyadari kejadian ini.
Tidak ada satu pun orang dewasa yang memerhatikan bagaimana anak-anak itu berinteraksi dengan kawan-kawan dan crossbow-nya. Murid-murid tersebut berkonspirasi, berstrategi, dan menghayati permainan dengan menampilkan mimik muka para prajurit perang yang siap menghabisi lawan. Tidak ada suatu hal pun yang meng-orkestrasi semua gaya anak-anak itu kecuali alam bawah sadarnya yang sudah dibentuk oleh televisi. Bukti visual ini pun menangkap sebuah interaksi yang sangat mirip dengan acara-acara perburuan dan penyergapan terhadap para penjahat yang acap kali disiarkan di televisi.
Memang sebagian besar keluarga di Indonesia masih menempatkan televisi di ruang keluarga. Celakalah para orangtua yang menempatkan televisi di kamar anak-anaknya karena mereka telah meletakkan racun pikiran tepat di jantung sasaran. Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention).
Sekarang banyak dijumpai anak-anak yang dicap malas belajar. Mungkin mereka bukan malas belajar. Otak mereka sudah tidak mampu menyerap bahan pelajaran dalam jangka waktu lebih lama dari jarak di antara dua spot iklan akibat pengondisian acara televisi.
televisi begitu dahsyatnya, bagaimana dengan komputer? Sejumlah penelitian bidang teknologi pendidikan menyatakan bahwa komputer memiliki dampak negatif terhadap pendidikan dan perkembangan anak sama banyaknya.
Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento, hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial.
Seperti halnya televisi, meletakkan komputer dengan CD-ROM di dalam kamar anak sama bahayanya. Hal ini, selain memungkinkan anak terlalu sibuk bermain game, komputer dengan CD-ROM memungkinkan masuknya VCD porno ke kamar anak tanpa sepengetahuan orangtua.
Untuk keluarga yang memiliki lebih dari satu komputer di rumah sangat disarankan untuk membangun jaringan komputer rumah, di mana hanya komputer pusat yang terletak di ruang publik yang memiliki CD-ROM agar pengaksesan CD-ROM ini dari kamar anak- anak dapat terawasi. Akhir- akhir ini dampak VCD porno bajakan sungguh meresahkan. Hal ini diakibatkan begitu mudahnya mendapatkan VCD bajakan dan memainkannya pada sebuah VCD player sehingga anak balita pun mampu mengoperasikan untuk menyaksikan Teletubbies kesayangannya.
Begitu juga dengan internet. Akses internet harus diletakkan di ruang publik untuk mencegah anak menjadi korban predator pedofilia di internet atau perbuatan melanggar hukum yang tidak disadarinya, seperti berbagi file secara ilegal (illegal file sharing). Kita tidak bisa mencegah anak berinteraksi dengan internet karena di dalamnya banyak pula hal yang bermanfaat. Hasil penelitian terakhir pun menyatakan tak ada satu peranti lunak pun yang mampu menggantikan tugas orangtua mengawasi kegiatan anaknya di internet.
Tulisan ini tidak untuk mencegah atau menakut-nakuti orangtua agar membatasi interaksi anaknya dengan teknologi. Tulisan ini bermaksud mengajak orangtua untuk berperan aktif dalam melindungi anaknya dari sisi negatif teknologi.
Perlindungan yang diberikan bukan dengan membuat anak menjadi steril dari teknologi, tetapi immune, yaitu dengan memberikan pendampingan terhadap anak dalam berinteraksi dengan teknologi. Berikan anak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dan tidak berlebihan.
Seyogianya orangtua tidak bersembunyi di balik ketidakmampuan mengadopsi teknologi. Orangtua telah lebih banyak memakan asam garam hidup ini. Teknologi boleh berbeda, tetapi cara manusia menggunakannya masih sama.
Dahulu, isu mengenai seseorang berhubungan seks di luar nikah beredar dari mulut ke mulut. Biasanya beredar saat pasangan tersebut putus dan diedarkan oleh pihak yang sakit hati. Kini gosip itu beredar dalam rekaman video ataupun foto. Lebih parah lagi, internet mempercepat peredarannya.
Sekali beredar di internet, akan susah menghapusnya. Pencegahannya sungguh merupakan hal yang tidak berhubungan dengan teknologi sama sekali, yaitu pendampingan orangtua terhadap anak dalam interaksi anak dengan teknologi dan proses internalisasi nilai- nilai positif kepada anak-anak oleh orang tua.
Memang anak lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi orangtua pun memiliki nilai lebih karena orangtua telah lebih dulu mengenyam berbagai pengalaman hidup. Kombinasi kedua hal ini akan menjamin proses mengadopsi teknologi dalam kehidupan keluarga menjadi lebih positif. Orangtua dan anak dapat meningkatkan kualitas waktu bersama dengan cara ini. Dengan demikian, orangtua akan mampu mencegah teknologi dan kejahatannya memisahkan keluarga yang dicintainya


Kamis, 03 Februari 2011

KISAH LUQMAN AL-HAKIM DENGAN TELATAH MANUSIA



 Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."

Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di passar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."

Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu."

Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."

Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

Rabu, 02 Februari 2011

TIMNAS




 Menjelang pertandingan ujicoba pertama kontra Pelita Jaya, Sabtu (5/2/2011), pemain timnas U-23 mulai menjajal rumput Stadion Gelora Bung Karno, Senayan.


 Hari ini (Kamis, 3/1/2011) timnas U-23 kembali berlatih seperti biasa. Tapi ada yang berbeda, karena kali ini latihan bukan dilakukan di Lapangan C melainkan di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan.


Pemindahan lokasi latihan kali ini dilakukan untuk menjajal rumput lapangan agar para pemain dapat melakukan adaptasi dengan rumput Stadion GBK, Senayan. Riedl yang memimpin langsung latihan mengaku puas dengan kondisi lapangan.


"Ini latihan pertama kami di stadion (GBK), dan saya cukup puas dengan kondisi lapangan dan rumput,” ujarnya kepada wartawan.


Selain untuk proses adaptasi bagi pemain, keputusan ini sekaligus menindaklanjuti tanggapan Riedl tentang buruknya kondisi rumput di Lapangan C.


Seperti telah diwartakan sebelumnya, Alfred Riedl sempat mengeluhkan kondisi rumput yang terdapat di Lapangan C yang terletak di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan.
Menurut pelatih asal Austria itu, kondisi rumput di lapangan latihan milik PSSI tersebut terlalu kaku sehingga berpotensi membuat pemain cedera.

Mengganti no.99 menjadi no.1


 pembalap Yamaha Jorge Lorenzo memutuskan untuk tidak lagi menggunakan nomor 99 pada lambung motornya dan menggantinya dengan No 1.
Keputusan Lorenzo mengganti nomor lambung motornya itu dikarenakan mengikuti aturan yang berlaku di ajang Moto GP bahwa juara dunia di musim sebelumnya berhak mengenakan nomor satu.
Rieder asal Spanyol itu mengaku keputusan ini diambilnya karena ia merasakan betul perjuangan yang dilakukannya hingga kemudian mengantarkannya menyabet gelar juara Dunia musim 2010.
"Saya merasa sangat bangga karena Anda harus bekerja sangat keras untuk mendapatkan hak untuk memakainya,” ucapnya.
Selain itu, ia juga menilai desain inisial dari namanya JL (Jorge Lorenzo) tampak sesuai jika disandingkan dengan nomor 1.
"Saya sangat beruntung dengan desainnya karena No. 1 menyatu dengan inisial JL, mungkin dengan huruf yang berbeda akan sulit membuatnya terlihat bagus," ujarnya seperti dikutip Autosport.
Meski begitu, ia mengaku takkan melupakan nomor 99 yang telah menjadi ciri khasnya semenjak awal berkiprah di ajang Moto GP. Bahkan ia mengaku ini merupakan pilihan sulit baginya ketika harus menaggalkan nomor keramat 99.
"Saya tak akan melupakan nomor 99 musim ini, nomor itu akan tetap berada di satu tempat di pakaian balap saya karena No. 99 ada di hati saya."
"Berganti nomor adalah sebuah pilihan yang sulit tapi saya punya hak untuk itu dan ini kesempatan yang unik untuk memakainya," tambahnya.
Sekadar informasi, peraturan penggunaan nomor 1 dilambung motor bukan merupakan sebuah kewajiban di ajang Moto GP oleh karena itu dalam dua musim terakhir nomor 1 tidak tampak disepanjang musim 2008-2009 ketika Valentino Rossi menjadi juara. Rossi memutuskan untuk tetap bertahan dengan nomor ‘keramatnya’ 46 di lambung motor.

Stoner Tercepat dalam Sesi Sepang


 Pabrikan Honda kembali menunjukkan taringnya. Sang pembalap, Casey Stoner, menjadi yang tercepat di tes pertama Moto GP di sirkuit Sepang, Malaysia, Selasa (1/2/2011).
 Dengan menggunakan tunggangan barunya 2010 RC212V, pembalap berdarah Australia itu menorehkan catatn waktu 2 menit 01.574 detik dan meninggalkan Juara Dunia Jorge Lorenzo dengan selisih waktu 0.403 detik.
Dalam wawancara seusai tes, pembalap 25 tahun itu mengungkapkan dirinya awalnya merasa agak kesulitan mengendalikan tunggangan barunya itu. Namun, setelahnya Stoner merasa sangat nyaman dan berhasil menyelesaikan sesi tes sebagai yang tercepat.
“Hari yang sangat positif. Awalnya, saya agak kesulitan mengendalikan motor. Namun begitu terbiasa, saya langsung bisa melaju dengan cepat,” tuturnya seperti dilansir Autosport.
“Kami tidak melakukan banyak setting pada motor dibandingkan pada saat di Valencia. Saya sangat senang dengan perubahan ini, walaupun kondisi sirkuit jauh berbeda.”
“Kami akan melakukan beberapa tes lagi dalam dua hari ke depan. Namun, saya sangat senang bisa kembali membalap.”
Sementara, penampilan kurang memuaskan kembali ditorehkan oleh pembalap anyar Ducati Valentino Rossi. Pembalap asal Italia itu hanya mampu finis di urutan ke-12 dengan catatn waktu 2 menit 03.365 detik.
Inilah Hasil Tes Sepang:

Pos Pembalap Tim Waktu Selisih

1. Casey Stoner Honda 2m01.574s
2. Jorge Lorenzo Yamaha 2m01.977s + 0.403s
3. Dani Pedrosa Honda 2m02.024s + 0.450s
4. Marco Simoncelli Gresini Honda 2m02.295s + 0.721s
5. Ben Spies Yamaha 2m02.332 + 0.758
6. Alvaro Bautista Suzuki 2m02.422 + 0.848
7. Hiroshi Aoyama Gresini Honda 2m02.483 + 0.909
8. Andrea Dovizioso Honda 2m02.507 + 0.933
9. Colin Edwards Tech 3 Yamaha 2m02.514 + 0.940
10. Randy de Puniet Pramac Ducati 2m03.152 + 1.578
11. Kousuke Akiyoshi Honda Test 2m03.224 + 1.650
12. Valentino Rossi Ducati 2m03.365s + 1.791s
13. Nicky Hayden Ducati 2m03.508s + 1.934s
14. Loris Capirossi Pramac Ducati 2m03.695s + 2.121s
15. Hector Barbera Aspar Ducati 2m03.767s + 2.193s
16. Cal Crutchlow Tech 3 Yamaha 2m04.009s + 2.435s
17. Toni Elias LCR Honda 2m04.238 + 2.664
18. Karel Abraham Cardion Ducati 2m04.470 + 2.896

Peringkat ke-12 ROSSI Bahagia


Valentino Rossi hanya berhasil duduk diperingkat ke-12 pada test hari pertama di Sirkuit sepang, Malaysia, yang rencananya akan berlangsung selama tiga hari. Perstasikurang memusakan juga ditorehkan rekan setim Ross ,Nicky Hayden. Pembalap 29 tahun itu hanya mampu berada satu strip di bawah Rossi.
Hasil ini tergolong amat buruk bagi duo mantan juara dunia motogp yang kini membela tim Ducati itu. Bila Rossi kerap mengeluhkan bahunya, Hayden mengeluh bagian grip dan front end Desmosedici GP11.
Walaupun hanya mampu berada di urutan ke-12, namun Rossi merasa bahagia karena mampu menyelesaikan 41 lap. Pembalap asal Italia itu juga mengungkapkan dirinya lebih optimistis dalam menatap balapan mendatang.
“Saya tidak pernah sebahagia ini berada di posisi ke-12 karena setelah tes di Misano kami merasa sanagt pesimistis. Kini, semuanya sudah jauh lebih baik. kami mampu menempuh 20 sampai 25 lap dengan kecepatan tinggi,” tuturnya seperti dilansir Autosport.
“Walaupun masih banyak yang harus dibenahi, namun secara keseluruhan kami tampil cukup baik hari ini. Kami kini memahami solusi terbaik adalah dengan tidak merubah DNA Ducati. Kami harus mengambil keuntungan dari aspek positif dan meningkatkan yang lain.”
“Saya masih merasa sakit ketika mengerem. Namun dibandingkan pada saat di Valencia, saya mampu berbuat banyak di sini.”
“Yang terpenting saya harus mendapat cukup istirahat untuk mengembalikan mobilitas. Jadi, saya mampu menyelesaikan 30 sampai 40 lap. Saya harus mendapa pijatan dan menaruh es di bahu saya,” pungkasnya.

Bahasa Indonesia


ASAL USUL BAHASA INDONESIA

BAHASA adalah yang paling baik dalam menunjukkan identitas kultural suatu bangsa.Dengan kata lain bahasa menunjukkan bangsa. Itu sebabnya penting bagi bangsa Melanesia melestarikan sekitar 250 bahasa etnisnya dari arus besar dominasi ‘bahasa Indonesia’. Sejauh mana dominasi itu? Apa dampaknya? Bagaimana proses historisnya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penting sebagai upaya melestarikan identitas bangsa Melanesia, yang selama ini ‘lebur’ dalam “NKRI” dan dalam banyak hal justru mengalami Jawanisasi. Ini kontradiktif dengan gagasan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Dewasa ini, bangsa Melanesia menggunakan bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa ini adalah “bahasa pemersatu”, yang mendapat tempat utama dalam media komunikasi formal, baik sebagai bahasa teks maupun lisan, disekolah, perkantoran dan tentu saja pada media cetak dan elektronik. Memang ada sisi baiknya, bahwa ‘bahasa Indonesia’ memainkan peran penting sebagai “jembatan” komunikasi menerobos diversitas linguistik yang berbeda satu sama lain (termasuk di Papua), dan memungkinkan para penuturnya menjangkau dunia pendidikan modern. Namun mesti disadari pula akan sisi buruknya, terutama bahwa ‘bahasa Indonesia’ menjadi dominan sehingga bahasa-bahasa lain keumgkinan akan tersisihkan. Entah bahasa Batak, Jawa, Bali dan termasuk 250 bahasa etnis Melanesia di tanah Papua. Padahal Bahasa Indonesia baru digunakan secara serius sejak 1950 di Papua oleh para pendakwah dan pejabat kolonial dalam rangka ‘menyatukan’ wilayah Papua dengan wilayah Hindia Belanda lainnya. Hal ini seiring dengan kebijakan diskriminasi kolonial Belanda yang hanya memperbolehkan bahasa Belanda diajarkan pada garis keturunan tertentu saja.
Apabila menenggok lebih jauh ke masa sebelumnya, maka bangsa Melanesia sebenarnya belum cukup dikenal para nasionalis Indonesia, selain sebagai koloni Belanda yang dalam banyak hal tidak terlibat langsung dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Diluar itu, wilayah ini cukup terisolir dari koloni Belanda di sebelah barat, kecuali wilayah pesisir utara yang menjalin hubungan dagang tradisional dengan Maluku. Selebihnya hanya bayang-bayang penjara besar - Boven Digul, di tengah sebagian besar masyarakat yang masih hidup di zaman batu (Benedict Andersson: 2002) Ini berarti bangsa Melanesia, tidak terlibat dalam beberapa proses sejarah penting, terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia. Pertama, saat bahasa Indonesia dipermaklumkan sebagai bahasa persatuan pada Sumpah Pemuda 1928, tidak ada yang mewakili bangsa Papua dalam peristiwa tersebut, kedua, saat bahasa Indonesia dianjurkan semasa pendudukan Jepang untuk menggusur bahasa Belanda, hal itu tidak terjadi di Papua, apalagi karena pertimbangan militer dan kondisi sosial politik waktu itu, Jepang membagi Hindia Belanda menjadi tiga wilayah koloni terpisah, dan Papua berada dibawah Angkatan Laut yang berpusat di Makasar, ketiga, saat bahasa Indonesia dipergunakan sebagai wahana perlawanan menyerang kolonialisme yang dipuncaki proklamasi kemerdekaan RI 1945, justru bangsa Papua belum ‘mengenal’ NKRI. Dari tiga fakta ini, bisa dibilang bahasa Indonesia adalah produk historis yang dalam prosesnya tidak sepenuhnya melibatkan bangsa Melanesia. Barulah pada tahun 1963 ketika Orde Lama mencanangkan operasi Trikora, dan disusul pelaksanaan Pepera semasa Orde Baru tahun 1969 bahasa Indonesia mulai dijadikan ‘bahasa resmi’ di Papua. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia yang sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, ia hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. Untuk sebagian besar lainnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama.
Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia Kata "Indonesia" berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos yang berarti "India" dan nesos yang berarti "pulau". Jadi kata Indonesia berarti kepulauan India, atau kepulauan yang berada di wilayah India.
Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaaIndonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia". Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap "lahir" atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya. Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar pendidikandi perguruanperguruan di Indonesia. Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak)